Obrolan Langsat (Obsat) perdana setelah libur hampir 2 bulan pada 29 September 2011 lalu, penuh dengan pencerahan. Fakta dan pengetahuan kuliner Indonesia yang diungkapkan sejarawan muda JJ Rizal dan chef Ragil Imam Wibowo membuka mata sobat Obsat yang hadir.
Dijelaskan oleh keduanya, kuliner Indonesia pada dasarnya merupakan perpaduan banyak budaya. "Pasalnya makanan adalah salah satu unsur kebudayaan. Ada simbol dan nilai dalam makanan," tutur Rizal menjawab pertanyaan pertama dari Arletta Danisworo selaku moderator.
Dari sebuah makanan, ungkap Rizal, kita bisa melihat sebuah sejarah kuliner yang mungkin berangkat dari cerita rakyat (folklore). Bahkan makanan dapat mengubah dunia, termasuk rempah-rempah yang mampu mengubah peta dunia.
Rizal kemudian mencontohkan perpaduan budaya yang terjadi terhadap makanan di Indonesia. "Penganan lebaran menunjukkan pluralisme. Ada berbagai budaya masuk ke sana, bahkan sampai budaya barat," tegasnya.
Lebih lanjut, Ragil menampilkan risalah perjalanan kuliner Indonesia dari masa ke masa. Di masa penjajahan, masyarakat Indonesia melihat makanan sebagai pertahanan hidup dan ritual.
"Sementara di sekitar abad ke-18, sistem rijsttafel atau paket makanan lengkap dalam satu menu mulai bermunculan dan hanya dinikmati oleh sebagian penguasa sebagai bentuk gaya hidup di masa penjajahan," tambah Ragil.
Di masa modern sekarang, makanan bukan lagi bentuk pertahanan hidup namun lebih kepada bentuk perayaan, gaya hidup dan bahkan ekspresi. "Makanan sebagai salah satu bentuk perayaan terjadi di seluruh dunia," sergah Rizal.
Tetapi menurut Rizal, makanan yang menjadi sangat penting bagi hidup justru dilupakan nilainya. Padahal di balik makanan yang rasanya dirayakan, ada baiknya filosofi di baliknya harus dirayakan pula.
Bagi Rizal, kuliner asli Indonesia sebenarnya terkait kelautan sesuai kepulauan sebagai ciri negeri. Diungkapkan olehnya bagaimana ikan asin merupakan salah satu artefak yang menunjukkan fakta orang Indonesia sebagai bangsa maritim.
Meski demikian, setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing pada makanannya. "Makanan di pulau Jawa lebih terpengaruh oleh kultur China. Sedangkan di Bali atau Sulawesi terpengaruh oleh budaya China Selatan.
"Makanan Indonesia secara sederhana adalah makanan yang penuh dengan rempah-rempah tetapi lebih ringan dibandingkan makanan India. Makanan Indonesia adalah esensi kebersamaan dan gotong royong " pungkas Ragil.


Komentar