Banyak orang Indonesia ingin menempuh studi lanjut di luar negeri dengan beasiswa. Namun tidak banyak dari mereka paham apa yang harus dilakukan dan bagaimana mencari serta memilih beasiswa. Dengan kalimat lain, kebanyakan dari mereka tak paham rambu dan ranjau.
"Kita harus tahu apa yang diinginkan sebelum memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Sebab ada banyak pilihan negara dan jurusan studi yang tersedia di luar negeri," ungkap Ariono Hadipuro, alumnus S2 dari UK, yang kini bekerja di lembaga informasi pendidikan di Belanda, Nuffic Neso Indonesia, pada Obrolan Langsat kemarin lusa yang dipandu oleh Rachmat Anggara dari Centre for Innovation Policy & Governance (CIPG) yang juga alumnus UK.
Dalam Obsat tersebut, selain Ariono juga hadir Roby Muhamad, Yanuar Nugroho, Mirta Amalia, Kristy Nelwan dan Ahmad Fuadi yang hampir seluruhnya pernah menggunakan jalur beasiswa untuk kuliah di luar negeri.
Ariono melanjutkan bahwa tempat mencari informasi yang netral dan terpercaya tentang sekolah di luar negeri adalah keduataan besar negara bersangkutan. Di sana akan ditemui konsultan pendidikan yang bisa menjadi sumber informasi.
"Anda harus mempelajari karakteristik beasiswa yang ada. Masing-masing beasiswa memiliki tujuan dan maksud. Sesuaikan dengan tujuan Anda," tegas Ono, sapaan akrab Ariono.
Sebagai contoh, Ono melanjutkan, beasiswa asal Belanda selalu ditujukan untuk meningkatkan hubungannya dengan Indonesia. Maka beasiswa dari Belanda difokuskan pada jurusan kuliah yang bisa mendukung tujuan tersebut.
Hal lain yang perlu diketahui para peminat beasiswa adalah jangan menggunakan acuan universitas sebagai tujuan kuliah di luar negeri.
"Gunakan acuan jurusan. Cari tahu jurusan terbaik yang Anda inginkan ada di universitas mana. Mengincar universitas terbaik tidak tepat," ungkap dosen dari Universitas Manchester, Yanuar Nugroho.
Hal senada juga dikatakan oleh Roby yang menempuh pendidikan S2 dan S3 di Amerika Serikat dengan beasiswa. "Jangan terpengaruh oleh peringkat universitas. Yang harus Anda perhatikan adalah jurusan studinya," katanya.
Para peminat juga perlu memperhatikan hak-hak yang bisa diperoleh saat menggunakan visa studi di negara bersangkutan. Lalu juga patut diketahui bahwa untuk belajar S3 di Amerika Serikat biasanya mendapatkan biaya gratis dan bisa juga dipersiapkan langsung dari S1.
"Bukan hanya gratis, Anda juga akan mendapatkan uang bulanan sebagai asisten pengajar atau peneliti. Beasiswa Anda ditanggung oleh universitas terkait," jelas Roby.
Bagi Ahmad Fuadi, mencari banyak informasi dengan membaca berbagai buku akan sangat membantu. Selain itu, tekad juga harus kuat. "Beasiswa tidak didesain untuk orang yang pintar, tetapi untuk orang yang bersungguh-sungguh di atas orang lain," ucap penulis novel Negeri 5 Menara tersebut.
Dan itu diperkuat oleh pernyataan Mirta yang sedang menempuh S3 di Manchester, Inggris. "S3 misalnya, ia terdiri dari 30% intelektual dan sisanya adalah ketahanan mental," katanya seraya diamini oleh Kristy.
Yanuar lalu menjabarkan tahapan mendapatkan beasiswa. Setelah mantap memilih universitas dan jurusan kuliahnya, peminat harus berusaha mendapatkan Letter of Acceptance (LOA). Di sinilah usaha keras harus dilakukan.
"Untuk mendapatkan LOA, peminat harus mempersiapkan kemampuan bahasa asing, mengisi berbagai formulir, menulis surat motivasi dan banyak lagi yang lain. Di sinilah kuncinya," kata Yanuar.
Tips lain yang diberikan antara lain jangan sampai salah mengisi formulir dan sebisa mungkin menulis surat motivasi yang baik. "Para pemberi beasiswa akan melihat alur berpikir kita dari surat itu. Sebaiknya tetap jujur dalam menulisnya," imbuh Yanuar.
Sebelum obrolan ditutup, tips terakhir yang diberikan Yanuar adalah memanfaatkan Direktorat Pendidikan Tinggi Depdiknas yang punya sekitar 1000 jenis beasiswa ke luar negeri dan setiap tahunnya hanya terserap oleh 700 mahasiswa.


Komentar
karena saya membutuhkan itu.trimakasih
sendjadewi@rocketmail.com