Meski digerogoti oleh berbagai kekacauan, Indonesia ternyata masih bisa mencetak prestasi positif di bidang ekonomi. Dari data kemampuan daya beli (Purchasing Power Parity), Indonesia berada di urutan ke-15 dunia dengan angka 1,03 triliun dolar AS.
"Saya sangat yakin Indonesia akan menjadi salah satu negara besar dan kuat di dunia suatu saat nanti. Data-data yang ada menunjukkan kemungkinan itu," ungkap Poltak Hotradero yang menyajikan data bertema "Indonesia: The Great Journey" dalam Obrolan Langsat Kamis (20/10) malam kemarin.
Menurut Poltak, Indonesia akan sangat unggul di Asean. Bahkan dengan berapi-api beliau menyatakan Indonesia akan memiliki perekonomian 3 kali Malaysia atau Singapura di suatu masa nanti seraya menunjukkan tabel pertumbuhan ekonomi Indonesia dan negara-negara lain.
Pada data ekonomi per 2010 milik Poltak, pendapatan per kapita Indonesia adalah AS$3015. Angkatan kerja per 2010 mencapai 116,5 juta orang yang memenuhi sektor jasa 48,9%, pertanian 38,3% dan industri 12,8%.
Urbanisasi Indonesia pada 2010 mencapai 44% dan pertumbuhan tiap tahunnya adalah 1,7%. "Urbanisasi bersama usia produktif yang besar dan mobilisasi ekonomi vertikal menjadi 3 pilar ekonomi Indonesia," kata Poltak.
Dari aneka data ekonomi yang ditunjukkan Poltak, salah satu yang menarik adalah tabel pertumbuhan ekonomi negara anggota G-20. Dalam tabel itu Indonesia berada di urutan 15. "Tetapi Indonesia adalah salah satu negara besar yang luput dari resesi 2008-2009 dengan pertumbuhan 4,5%. Bahkan Indonesia satu-satunya negara di G-20 yang mampu mencatat pertumbuhan ekonomi secara cepat," sergah Poltak.
Itu sebabnya Poltak sangat yakin bahwa saingan perekonomian Indonesia nantinya bukan lagi kawasan Asean. Selain Indonesia satu-satunya negara Asean di G-20, juga mendominasi kawasan Asia Tenggara -- baik dari segi jumlah penduduk, besaran ekonomi maupun luas wilayah.
Saat ini, pendapatan domestik bruto Indonesia (Gross Domestic Product) adalah 709 miliar dolar AS. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 6,5%, Poltak menilai GDP Indonesia pada 2025 akan mencapai 3 triliun dolar AS.
"Lalu pada 2030, Indonesia akan memiliki 180 juta penduduk dalam usia produktif. Yang terbesar akan berada dalam usia 28 tahun," ungkap Poltak yang sehari-hari bekerja sebagai pimpinan tim riset di Bursa Efek Indonesia.
Lalu bagaimana menyikapi catatan ekonomi Indonesia yang menjanjikan tersebut?
Poltak menyatakan satu-satunya cara adalah dengan membangun kapasitas (capacity building) individu Indonesia agar dari level bawah bisa meningkat ke level menengah. "Ekonomi Indonesia yang belum merata memang masih menjadi masalah utama," tutur Marischka Prudence yang juga hadir menjadi narasumber.
Pekerjaan rumah untuk menuju perekonomian yang lebih besar adalah meningkatkan Investment Grade Indonesia yang masih berada di level BB+. Indonesia tinggal selangkah lagi mencapai BBB- yang artinya menjadi negara tujuan investasi.
"Jika menjadi negara tujuan investasi, maka Indonesia bisa kebanjiran dana segar. Investor terbesar di dunia masih dana pensiun dan dana asuransi. Bukan perorangan seperti George Soros," ungkap Poltak.
Yang pada akhirnya menjadi solusi adalah kesadaran diri sendiri untuk bertahan dan sekaligus meningkatkan diri menjadi warga kelas menengah. Besarnya kelas menengah akan membuat demokrasi Indonesia makin kuat.
"Kelas menengah tidak akan mudah disogok hanya untuk menjual suaranya dalam pemilu. Suara mereka mahal, kekuatan politik bisa menyerah. Namun yang lebih penting adalah bagaimana kelas menengah dapat memberdayakan ekonomi di sekitarnya atau mengangkat level bawah yang ada di sekitarnya," pungkas Poltak.


Komentar