Masalah gizi buruk di Indonesia bukanlah pekerjaan rumah yang ringan. Kejadian gizi buruk disebabkan oleh banyak faktor; sosial dan ekonomi. Penanggulangannya pun demikian.
"Gizi buruk banyak dialami oleh anak-anak dari daerah miskin. Namun penyebabnya ternyata bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga minimnya pengetahuan," ungkap Dr. dr. Saptawari Bardosono yang biasa disapa dr. Tati pada Obrolan Langsat "Solusi Penanggulangan Gizi" hari Rabu, 25 Januari 2012.
Kerusakan yang disebabkan oleh gizi buruk pada anak-anak akan bersifat permanen. Yang paling kentara adalah para proses tumbuh kembang mereka. Lalu bagaimana gejala anak dengan gizi buruk?
"Tanda dan gejalanya adalah bersikap apatis. Tidak memiliki rasa apa-apa dan yang paling parah adalah tak punya kekebalan tubuh," sahut dr. Tati menjawab pertanyaan moderator Tikabanget.
Pada kesempatan pertama, anak dengan gizi buruk akan mendapat terapi medis. Pasalnya, bila tidak segera ditangani akan menyebabkan kematian.
"Pengetahuan adalah kunci utama dalam masalah gizi. Faktor sosial seperti bahasa adalah penyebab lainnya. Misalnya bahasa Indonesia. Banyak orang tua di kawasan terpencil yang tidak mampu berbahasa Indonesia. Akibatnya pengetahuan tentang gizi sulit diberikan. Ini menjadi pekerjaan rumah banyak pihak," ungkap dr. Tati yang pernah menetap cukup lama di Papua dan Nusa Tenggara Timur ini.
Kendala lain penanggulangan gizi buruk di Indonesia adalah terbatasnya persepsi orang tua terhadap gizi. Itu sebabnya pintu pertama menanggulanginya adalah dengan mengubah persepsi orang tua.
"Kami melatih para bapak dan ibu dari daerah terpencil seperti Nias untuk membantu program penanganan gizi buruk di daerahnya. Kami berikan pengetahuan tentang gizi kepada mereka. Juga kami berikan pengetahuan sanitasi pada mereka," ujar Yuna Kristina, Public Relation Manager Orang Tua Grup, yang menjalankan program CSR di Kepulauan Nias, Sumatera Utara, sejak 2010.
Pengkaderan yang dilakukan Orang Tua Grup juga disertai dengan pemberian benih sayuran dan ikan lele secara kontinyu sehingga hambatan ekonomi bisa diminimalisir. "Yang terbaru, kami memberikan paket benih sayuran dan ikan ke desa Rabak di kawasan Banten. Kasus gizi buruk juga terjadi di dekat pusat ibukota," kata Yuna.
Menanggulangi masalah gizi harus dilakukan secara sinergis. Tak mungkin hanya dengan faktor ekonomi saja atau kesehatan saja. Faktor kultur juga memegang peranan.
"Masalah gizi buruk juga bisa menimpa anak-anak dari kalangan ekonomi yang cukup. Jadi, ini memang masalah kompleks. Jangan lupa juga pada faktor kasih sayang keluarga. Ini penting untuk menanggulangi masalah gizi," pungkas dr. Tati.


Komentar